Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Sunday, 9 November 2014

Kembali

Mengenalmu bukan perkara mudah
Seakan yang kau tawarkan hanya lara

Ntah apa yang kau diskusikan dengan Tuhan
Melangkah darimu aku enggan

Sadar bahwa cinta datang membawa harapan
Memaksa kita untuk bijak
Memaknai bahagia, menyikapi duka

Adakah kiranya satu masa
agar cinta kembali ke peraduannya?



Kembali.
Jakarta, November 2014


Photo source: Pinterest

Monday, 10 March 2014

Sang Juara Metafora

Kumpulan karya besar yang menginspirasi dari seorang Sapadi Djoko Darmono. Saya catut disini agar ia tak mudah terlupa dan catatannya selalu tersimpan.

PADA SUATU HARI NANTI
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

GADIS KECIL

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung

DALAM BIS

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat

waktu henti ia tiada

Thursday, 2 May 2013

Karena Terbiasa

Ada yang berbeda ketika kau tak ada
Tampaknya aku terlalu terbiasa
Dibuai oleh hal-hal sederhana
Dan tak pernah menjadi intensimu
Untuk menjadikannya ada

Hanya saja rasanya selalu berbeda
Ketika satu waktu kau silap
Dan tidak bertingkah seperti biasanya
Karena aku hanya paham dengan pola yang serupa

Seperti hari yang selalu menemui senja sebelum malam
Atau seperti hujan yang siap menyambut pelangi
Aku juga memaknai eksistensi keteraturan selama ini
Sehingga kau mampu membayangkan
Betapa asingnya malam ini, karena aku sendiri





Tuesday, 23 April 2013

Menghargai jarak

Kita patut bersyukur pada Sang Penguasa atas masa yang akhirnya tiba
Sebagai hadiah untuk dahaga rindu yang membuncah
Senyummu yang merekah dan wajahku yang memerah
Kita dipertemukan dalam suasana merah muda

Selama ini kita mengumpat jarak yang terhampar.
Bagaimana tidak?
Canggihnya teknologi tidak kunjung menjadi penawar rasa sesaknya

Sampai hari ini, ketika kita kembali bertatap muka
Baru kita mampu memaknai jarak yang terbentang
Serasa mendapatkan angin segar di ruangan pengap
Atau seperti mengecap madu saat harus menelan obat pahit

Aku dan kamu berjanji akan selalu menghargai jarak
Mensyukuri jarak yang membatasi kita dari sikap-sikap tercela
Menikmati jarak yang akan menabung rindu, hingga nanti ada kalanya pantas kembali memetik bahagianya

Hingga pada suatu hari nanti
Jika kita ditakdirkan untuk dapat saling menatap setiap pagi
Atau terlelap bersisian di setiap malam
Atau berdiskusi hingga hari berganti
Kita akan selalu bisa bercermin pada masa ini,
Saat kita berjuang memaknai jarak sebagai sesuatu yang positif





Saturday, 9 March 2013

Ditelan malam

Aku ingin berteriak pada malam
Mengapa ia selalu datang terlambat
Belum habis keluhku, sudah pergi dengan tergesa-gesa
Aku bertanya pada malam
Mungkin saja dia miliki waktu yang lebih panjang
Membiarkan aku yang semangat meracau

Andai malam tinggal lebih lama
Akan kuceritakan duduk masalahnya
Dari hulu hingga hilirnya
Sampai habis amarah dan dendam

Ternyata malam selalu terasa pergi lebih cepat
Belum sempat rasanya mata tertutup rapat
Aku sudah kembali menemui siang
Kucari sedihku, ternyata sudah ditelan malam



Sunday, 20 January 2013

Diskusi

Mendengarmu layaknya membaca buku
Yang setiap lembarnya tak pernah sepi
Dan penuh dengan catatan kaki
Bersamamu layaknya memperhatikan anak-anak sungai
Riaknya yang kadang menyeringai
Namun juga tenang seolah membuai

Di sela cerita pernah kamu menggambar sebuah sketsa
Ceritanya itu adalah rencana
Dua titik tergambar disana, katanya itu seperti kita
Tanganmu lincah menarik garis dari dua ujung yang berbeda
Ditengahnya, dua titik tadi bertemu muka
Seperti kita, dari kutub yang berbeda
Memiliki asa untuk satu cita

Tak mau kalah, aku coba melempar angan
Kali ini tentang rencana pertemuan
Pada satu masa, jika perjumpaan singgah di hadapan
Aku tawarkan harapan, bukan kenangan
Jika tampaknya masih kuat eksistensi perasaan
Aku beranikan merajut mimpi yang bersarang di pikiran

Kamu tersenyum, menggelengkan kepala
Seolah ada yang menggelitik tawa
Katamu, masih saja aku tidak percaya
Bahwa hidup kita sudah ada sutradaranya

Seperti orang yang membaca buku dan memandangi sungai
Aku hanyalah seorang pemerhati
Tapi katamu, jangan lah terlalu sering menjadi pemerhati
Ada kalanya harus siap jadi pemimpi yang memiliki aksi
Aku bukan takut bermimpi, hanya berusaha tetap menginjak bumi
Katamu, itu wujud ketakutan yang tidak disadari
Jika berani, apapun terlewati
Apalagi cuma jarak yang sementara dan sebentar lagi berhenti