Saturday, 31 August 2019

Upgrading Myself

Hari ini saya nonton vlog seorang businesswoman dari Malaysia yang menurut standar saya, sudah hidup cukup sukses. She has everything, from career, loving husbands, adorable kids, warm big family and also trusted friends. Yang kemudian membuat saya terhenyak adalah ketika saya langsung "menangkap" sifat atau karakter yang menuntun dia untuk bisa berada di tahap ini. Konsistensi dan disiplin. Two things that I think I dont have right now. Soooo, tonight I am inspired to upgrade myself. I intend to build these characters within myself. Cara mudah yang saya pikirkan saat ini adalah dengan menantang diri saya untuk menulis di blog di setiap tanggal ganjil. Demi menghidupkan sisi konsistensi dan disiplin tersebut. I used to have those traits but since I resign from being an employee, I start to live as I please. And it's not good enough. It's not good enough for me who plans to have my own business, to resume my career path. Therefore, I need to train myself. Training asides, saya juga ingin kembali melatih kemampuan saya dalam menulis. Dulu saat bekerja untuk sebuah perusahaan konsultan komunikasi, saya dapat menulis banyak hal, dengan cara penulisan yang cukup enak. Sekarang? Saya melihat ada penurunan kemampuan menulis dalam diri saya yang membuat saya harus kembali memaksakan diri untuk membaca buku dan tentu menulis. Good luck to me!

Wednesday, 11 January 2017

Happiness

Assalamualaikum! Ini adalah post pertama di tahun 2017. Yeay! Semoga resolusi seminggu minimal tiga post tidak hanya jadi wacana belaka seperti tahun-tahun sebelumnya  Saya sebetulnya bukan tipe orang yang mengkhususkan tahun baru sebagai “batas” diri saya yang dulu dan sekarang. Jadi, sebetulnya saya tidak terlalu merencanakan goal apa yang ingin saya capai di tahun depan. Namun, karena saya belum banyak kegiatan lagi, saya jadi kepikiran apa sih yang telah saya lakukan di tahun sebelumnya. Apa yang membuat saya senang, apa yang membuat saya sedih. Kembali ke beberapa tahun sebelumnya yaitu tahun 2014. Tahun 2014 mungkin tahun terberat untuk mental saya. Terberat dalam artian ini menurut saya, bagi sebagian orang mungkin akan terdengar biasa saja. So, no judging, pretty please  Tahun 2014 adalah tahun ketika rasa percaya diri jatuh ke tingkat terendah selama yang saya ingat. Tahun 2012-2013, saya banyak melakukan travelling, baik kepentingan dinas maupun kepentingan pribadi (jalan-jalan, kondangan temen di luar kota, dll). Tahun 2012-2013 adalah sosok saya yang baru memasuki dunia kerja, penuh dengan gairah yang menggebu-gebu untuk belajar, bertemu orang baru, ke tempat baru dan memiliki banyak ekspektasi baru. Ekspektasi inilah yang kemudian –menurut saya- menjadi cikal bakal dari ketidakmampuan saya untuk bersyukur dan berakhir pada pilihan-pilihan yang tidak bijak. Awal 2014 dibuka dengan status saya sebagai orang yang tidak memiliki pekerjaan. Keadaan yang begitu sibuk sebelumnya, membuat saya harus menyesuaikan diri dengan keadaan tidak memiliki kegiatan. Pada awal tahun itu pula, saya mengalami banyak penolakan, baik penolakan kerja maupun penolakan beasiswa. Rencana yang tadinya terdengar begitu matang di akhir tahun 2013, mendadak tidak tercapai sedikit pun di awal tahun. Percaya diri saya turun, menjadi orang yang defensif, dan cenderung malu jika ditanya orang. Tahun 2014 menjadi tahun ketika saya menjadi orang yang menutup diri dari lingkungan sosial, tidak percaya diri,mudah emosi dan terburu-buru. Saya banyak menyalahkan keadaan dan orang-orang dekat yang –menurut saya- menjadi penghambat dalam mencapai hal yang saya inginkan. Perlahan, keadaan mulai membaik dengan akhirnya saya mendapat beasiswa. Walaupun, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi di dalam negeri. Mulai mencari kegiatan dengan mendirikan usaha kecil-kecilan bersama teman. Tahun 2015 saya mulai berupaya bangkit dari perasaan “mengasihani diri sendiri”. Malam sebelum kuliah, saya membaca dulu materi yang akan diajarkan. Alhamdulillah hal ini sangat membantu nilai saya, namun yang utama adalah meningkatkan percaya diri saya. Jadi, alasan saya melakukan yang terbaik saat kuliah bukanlah karena nilai, melainkan untuk meningkatkan percaya diri. Saya percaya diri ketika orang meminta bantuan saya dalam memahami materi kuliah. Saya percaya diri ketika dosen bertanya dan saya mampu memberi jawaban yang memuaskan. Saya percaya diri ketika ada yang bertanya tentang kuliah saya. Tahun-tahun berikutnya saya merasa lebih mudah. Saya memiliki banyak waktu untuk “memperkaya” diri. Saya tidak terus-terusan sibuk memenuhi ekspektasi sosial. Saya mulai banyak bersyukur dan tidak membandingkan keadaan saya dengan orang lain. Saya berdamai dengan keputusan-keputusan saya di masa lalu, Bahwa keputusan yang tidak bijak pun adalah takdir yang harus saya jalani dan akan selalu ada hikmah dari takdir yang diberikan Allah. Saya juga menyadari bahwa situasi atau orang-orang yang menurut saya menghambat keinginan saya bukanlah pihak yang harus disalahkan. Hal-hal yang tidak tercapai di tahun sebelumnya atau keinginan yang akhirnya tidak bisa saya raih, bukanlah kegagalan. Melainkan bentuk kompromi. Pada akhirnya, saya menjadi bahagia dengan pribadi saya saat ini. Saya sadar bahwa kejadian di tahun-tahun kemarin mengajarkan bagaimana saya harus bersabar. Bahwa keputusan yang didasarkan emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Bahwa saya harus bersyukur dan selalu melihat hal positif karena selalu ada hal positif dalam kehidupan manusia. Saya mengerti bahwa saya tidak akan bahagia kalau saya hanya memenuhi keinginan saya. Bahwa pengorbanan dan penyesuaian itu selalu dibutuhkan manusia sehingga jangan merasa hanya saya lah yang melakukan pengorbanan. At the end, don’t ever think that life would offer the same situations. Look deeper because happiness is always there. You don’t need to fulfil every desire that people have. You achieve only those which belong to you. You can be you and do anything you want with your own life, but on the basis of consideration for others, because your life is not only about you. Don’t worry, be happy  Have a great year of 2017, everyone!

Thursday, 22 December 2016

Jalan-jalan ke Korea - Persiapan

Assalamualaikum! Hari ini saya mau berbagi tentang perjalanan saya dan suami ke Korea pada awal Desember 2016. Saya mau cerita dari awal persiapan sampai kepulangan kami di Jakarta. Karena sepertinya banyak yang akan saya ceritakan, jadi saya bagi post tentang korea ini menjadi beberapa bagian ya. Oke, langsung aja ke bagian pertama! Bagian pertama: Persiapan! Saya dan suami memang berkomitmen untuk liburan akhir tahun ini. Because we didnt have a proper honeymoon. Jadi waktu itu, udah merencanakan honeymoon eh taunya ada kerjaan kantor yang gak bisa ditinggal suami. Setelah itu, uang liburan kita banyak kepakai untuk hal-hal lain, sehingga akhirnya kita menunda sampai akhir tahun 2016. Tiket Pesawat Awalnya kami gak berencana ke Korea. Kita mau pergi kemana pun, yang penting dapat pengalaman baru dan berdua aja. Akhirnya iseng datang ke Garuda Travel Fair 2016 di bulan Agustus. Ada beberapa destinasi yang sesuai budget kami, yaitu ke Osaka, Tokyo atau Seoul. Setelah browsing sana-sini, kayaknya living cost di Jepang lebih besar dibandingkan Korea, akhirnya kita sepakat untuk pilih Korea. Kami dapat tiket Garuda PP untuk bulan Desember 2016 di harga IDR 4,3juta per orang. Murah! Saya pernah ke Seoul di tahun 2012, saat itu menggunakan AirAsia, harga tiketnya 4,2jt per orang, tapi harus transit di Kuala Lumpur yang bakal bikin perjalanan makin puanjaang. Yang lebih menyenangkan dari Garuda adalah apabila kita berhalangan berangkat pada tanggal pemesanan,maka kita bisa reschedule, namun harga kembali ke harga normal. Menurut saya itu lebih baik dibandingkan betul-betul hangus. Tips: Rencanakan liburan jauh-jauh hari agar bisa mendapatkan tiket yang lebih murah. Paspor Setelah tiket dan tentunya persetujuan cuti dari kantor suami, saya mulai mengurus dokumen penting, yaitu paspor dan visa. Ingat ya,paspor yang bisa digunakan adalah paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan sebelum expired date. Kebetulan paspor saya akan expired di bulan April 2017, sedangkan saya akan berangkat Desember 2016, jadi harus diperpanjang. Pengajuan paspor saat ini mudah sekali ya. Tinggal isi form melalui internet, lalu cetak dan bawa ke Kantor Imigrasi yang telah dipilih sebelumnya. Saya pilih ke kantor imigrasi Jakarta Timur. Harga perpanjangan paspor yaitu IDR 355.000.Paspor jadi dalam tiga hari kerja. Alhamdulillah proses perpanjangan paspor saya lancar. Saat disana, ada beberapa orang yang paspornya tertahan. Mereka adalah orang-orang yang melakukan pembayaran via internet banking atau atm. Karena ada kesalahan sistem, pembayaran belum terkonfirmasi. Alhasil mereka masih harus menunggu minggu depan. Tips: Lakukan pembayaran bayar paspor melalui Teller Bank saja. Visa Proses pengajuan visa saya lakukan sendiri. Karena suami bekerja, saya yang menguruskan visa suami dan saya sendiri. Saya langsung berangkat ke Kedubes Korea bagian Konsuler. Lokasi Kedubes ini ada di Jalan Gatot Subroto, sebelah Rumah Sakit Medistra. Pelayanan aplikasi visa dibuka mulai jam 09.00 - 12.00 wib, sedangkan pengambilan visa mulai 13.30 - 16.30 wib. Bagi yang membawa mobil, kedutaan Korea tidak menyiapkan tempat untuk parkir kendaraan, tapi kamu bisa menuju Gedung K-Link, sebelah R.S Medistra dan parkir disana. Setelah itu, tinggal jalan kaki aja menuju kedutaan Korea. Untuk tipe visa yang ingin diajukan adalah visa turis atau visa single entry (berlaku dalam tiga bulan) . Biayanya IDR 540.000 per visa. Persyaratan dokumen yang diminta lumayan banyak versinya. Di website Kedutaan Besar Korea, persyaratan dokumen tidak banyak, tetapi pengalaman saya saat mengajukan visa, mereka minta selengkap mungkin. Misalnya, di website tertera untuk bukti keuangan dapat pilih salah satu, apakah bukti rekening koran, bukti pembayaran pajak atau slip gaji. Nyatanya, saat mengajukan visa, ketiga dokumen diminta. Jadi saran dari saya, kasih aja semua, biar lengkap hehe. So, berdasarkan pengalaman saya kemarin, dokumen yang saya ajukan diantaranya: Suami 1. Paspor asli dan fotokopinya beserta fotokopi halaman-halaman yang berisi cap-cap dari negara lain,jika ada 2. Form aplikasi visa ( download ) 3. Foto ukuran 3,5x4,5 cm, background putih, tampak wajah 80% 4. Kartu Keluarga atau Surat Nikah (saya pakai surat nikah, karena kami belum ada KK baru) 5. Surat Keterangan Bekerja (bahasa Inggris) 6. Bukti Keuangan : - SPT PPH 21 (Jika telah melakukan sistem pelaporan pajak online, kita bisa cetak langsung dari akun kita) - Rekening Koran 3 bulan terakhir (Rekening suami saya Mandiri, biaya pembuatannya IDR 150.000, namun jadi keesokan harinya) - Slip gaji atau bukti tunjangan pensiun Istri (Saya tidak bekerja kantoran, Saya sedang menyelesaikan kuliah master saya dan saat ini sedang berwirausaha kecil-kecilan). Jadi dokumen yang saya pakai untuk visa, diantaranya Nomor 1-4 sama dengan dokumen suami. 5. Surat sponsor dari Suami. Surat sponsor ini menyebutkan bahwa suami saya akan menanggung biaya perjalanan saya dan memastikan bahwa saya akan kembali pulang ke Indonesia. Format surat ini bebas dan saya ngarang sendiri. Ditulis dalam bahasa Inggris dan ditandatangani suami di atas materai. 6. Surat keterangan mahasiswa (karena kebetulan saya sedang bersekolah) 7. Bukti Keuangan Suami (Saya melampirkan fotokopi semua bukti keuangan suami). Dokumen tambahan: saya melampirkan bukti booking hostel, tiket PP Cengkareng - Incheon, itinerary atau jadwal kegiatan selama disana. Saya datang jam 08.00 pagi dan ternyata loket sudah dibuka jam 08.30 wib. Namun, petugas baru melayani jam 09.00. Saya mendapat nomor antrian no.3. Oiya, jangan lupa membawa uang tunai karena pembayaran visa hanya bisa dilakukan tunai, tidak bisa debet apalagi pake kartu kredit hehe. Prosesnya hanya sekitar 10 menit karena petugas hanya screening dokumen. Setelah itu kita diberikan bukti pengambilan. Mulai Desember 2016, kita harus mengecek status paspor melalui website, jika sudah approved baru kita melakukan pengambilan. Proses pengajuan aplikasi visa maupun pengambilan visa dapat diwakilkan. Tips: Datang lebih pagi untuk menghindari antrian panjang. Cetak dan isi form aplikasi sebelum ke Kedutaan karena sebetulnya petugas tidak menyediakan form disana. Kalaupun ada jumlahnya terbatas. Kemarin saya lihat ada yang kehabisan dan sibuk mencari warnet atau digital printing. Tips lainnya, bawa uang tunai atau cash untuk membayar visa karena tidak ada atm di gedung Kedutaan dan tidak melayani transaksi elektronik. Lengkapi dokumen selengkap-lengkapnya. Alhamdulillah, waktu itu saya apply hari Senin dan hari Jumat visa sudah approved. Akomodasi Saya dan suami adalah tipe yang tidak ingin menghabiskan dana yang banyak untuk akomodasi. Kebetulan kami termasuk yang bisa tidur dimana aja, jadi kami gak perlu hotel mewah untuk tidur, toh disana akan banyak dihabiskan untuk jalan-jalan dibandingkan mendem di hotel hehe.. Akhirnya pilihan kami jatuh kepada HOSTEL!. Hostel di luar negeri itu mungkin setara hotel bintang kelas 1 atau 2 di Indonesia mungkin ya. Untuk pemilihan hostel, pertimbangan kami adalah kamar private buat berdua, kamar mandi dalam, ada sarapan, dekat dengan shuttle ke airport dan dekat dengan subway station. Karena kami akan datang saat musim dingin, pertimbangan lainnya adalah adanya air hangat untuk mandi dan penghangat ruangan dalam kamar. Setelah browsing dan mesen sana sini, trus cancel sana sini lagi hehehe.. Akhirnya pilihan kami jatuh kepada BEEWON GUESTHOUSE! Sekalian aja saya review ya. 1. MURAH dan space yang luas! Saya pesan kamar ondol room (traditional room dengan sistem penghangan lantai). Idenya sih biar ngerasa aja ala keluarga-keluarga Korea beneran. hehehe. Tapi Alhamdulillah ini menjadi pilihan yang tepat. Hostel terkenal dengan ruangan yang sempit, padahal kami membawa koper yang gede-gede. Dengan ondol room ini, kita bisa lipat mattras yang tidak digunakan, sehingga spacenya luas. Kamar ondol room ini dilengkapi dengan Kamar mandi dalam. Untuk 7 hari 6 malam, kami mendapatkan harga 205.000 won atau 2,3 juta rupiah!! Sebetulnya ada lagi yang lebih murah, misalnya yang bunk bed, atau dormitory tapi kurang nyaman buat kami yang suami-istri. Nanti gak bisa pelukan! hahaha 2. Lokasi. Lokasinya Beewon ini sangat dekat dengan dua subway station, yaitu Anguk Station dan Jongno-(3)ga station, skitar 200-300m atau 5-10 menit jalan kaki. Shuttle bus ke airport juga sangat dekat hanya 5 menit jalan kaki. Ini penting sekali, jadi kami gak perlu takut kesusahan narik-narik koper untuk menuju hostel. Jalan menuju hostel dari shuttle bus juga rata, jadi gak perlu takut kesusahan. Hostel ini juga dekat ke Bukchon Hanok Village, Gyeongbokgung Palace dan Palace-palace lainnya. Saya mengunjungi tempat-tempat tersebut dengan berjalan kaki. Dan yang paling penting, Beewon ini berada di belakang 7Eleven. Lumayan membantu kalau mau membeli suatu yang instan. 3. Fasilitas. Beewon guesthouse menyediakan sarapan, yaitu roti, selai, yogurt, susu, teh dan kopi. Kami juga diperbolehkan untuk numpang nge-print, gratis! Di setiap lantai ada dispenser bagi para penghuni. Di dalam kamar, disediakan televisi LED dengan channel yang sangat beragam, hair dryer, air panas untuk mandi, penghangat ruangan, AC, meja rias dan gantungan baju. Yang paling cute adalah ada kucing yang akan menyambut kami setiap kami kembali ke hostel. Namanya Geum-dong. Sampai sekarang aja rasanya susah move on dari Geum-dong si kucing lucu.. Kamar dan keseluruhan hostel menurut saya cukup bersih. Host dan para pegawai pun menyambut dan mau membantu kami. Mengangkat koper ke kamar dan memberikan rekomendasi tempat oleh-oleh, dan lain-lain. Pokoknya saya dan suami merekomendasikan hostel ini! Itinerary Menyusun itinerary atau jadwal kegiatan merupakan hal yang penting, terutama bagi yang tidak pergi bersama tur. Kami juga memutuskan untuk tidak menggunakan jasa tur karena kami ingin liburan sesuai keinginan kami tanpa ada jadwal yang pasti. Itinerary sifatnya hanya sebagai pedoman, agar kita tidak terlalu buta mau kemana, tapi pelaksanaannya terserah kita dan tergantung keadaan saat itu saja :) Dari itinerary yang saya buat, sepertinya 70% terpenuhi. Cuaca merupakan salah satu faktor adanya perubahan, selain karena faktor keuangan! hahaha. Setelah disana, ada beberapa pertimbangan yang membuat kami merelakan uang untuk masuk ke arena wisata, menjadi uang untuk makan enak. Itinerary yang saya susun tentunya berdasarkan browsing-browsing dari internet, dan mempertimbangan jarak antar lokasi. Di Korea banyak sekali destinasi wisata yang tidak akan cukup dikunjungi semua dalam waktu seminggu. Destinasi wisata juga ada yang mirip antara satu sama lain,sehingga perlu dipertimbangkan baik-baik. Jika ada yang berminat untuk melihat itinerary saya, silahkan beritahu email kamu di kolom komentar, insha Allah saya kirimkan itinerary saya. Tips: Jika ingin mengunjungi tempat-tempat wisata khas di Korea seperti Namsan Tower, Everland atau Ski, saya sarankan untuk menempatkan kegiatan-kegiatan tersebut di hari kerja, karena akhir pekan akan sangat ramai. Jika ingin mudah, bisa juga mencontoh itinerary tur-tur yang ada. Segitu dulu ya cerita tentang persiapannya. If anyone has any queries, please let me know. Sampai ketemu di postingan selanjutnya!

Monday, 2 May 2016

Bio True - ONEday Lenses Review

Dear All,

Another product was added to be reviewed! here it comes, BIO TRUE ONEday Lenses!!

Saya register disini untuk mendapatkan sampel produk keluaran Bausch + Lomb ini. Sebetulnya saya sudah ngefans lama dengan line nya Bausch + Lomb karena saya selalu menggunakan Renu sebagai daily cleaner untuk softlens yang saya gunakan.

Saya mendapatkan 2 box Biotrue yang berisi lima buah dalam 1 box, berarti saya dapat 5 pasang. Biotrue punya ukuran dari -1 hingga -9 dan merupakan softlens sekali pakai. Jadi kalau sudah dipakai seharian bisa langsung dibuang. Warna softlens nya bening sehingga mata tetap terlihat natural.

Pertama kali saya pakai, saya tidak merasakan sesuatu yang mengganjal. Pertama, karena saya terbiasa menggunakan softlens. Kedua, karena memang kelembaban biotrue cukup tinggi. Saya tidak perlu membilas softlens sebelum saya pakai untuk pertama kalinya. Jadi setelah saya buka kemasannya, bisa langsung saya tempatkan ke mata. Beberapa brand lain membutuhkan bilasan walaupun baru dibuka untuk pertama kalinya dan ini gak terjadi pada Biotrue, so I am satisfied!

Saya pakai buat kondangan dan sampai di rumah gak saya lepas karena saya baru pakai beberapa jam. Selama 10 jam pertama, saya tidak membutuhkan tetes mata. Saya tidak merasa mata saya kering ataupun iritasi. Namun, setelah 10 jam saya merasa butuh meneteskan tetes mata karena keringnya mulai terasa, mungkin juga karena pengaruh berlama-lama dalam ruangan ber-AC.

Ukuran mata saya sebenarnya adalah -3,5 dan silinder 1,75, tetapi saya menggunakan Biotrue dengan ukuran -3,5 saja tanpa silinder. Buat saya, kurang begitu nyaman untuk dipakai sehari-hari karena tetap tidak jelas terutama untuk beca tulisan. Biotrue dijual dengan harga 235.000-275.000 untuk setiap box berisi 30 pcs. Saya kira cukup recommended digunakan untuk kondangan atau kegiatan outdoor jika mata kamu juga punya silinder yang cukup tinggi seperti saya. Buat kamu yang males ribet dan hanya membutuhkan softlens untuk mata minus, Biotrue bisa menjadi salah satu pilihan yang tepat.

See you!

Tasya





Friday, 8 April 2016

Serba-serbi Lensa Kontak

Hi world!

Kali ini saya mau ngomongin tentang contact lens karena saya cukup susah untuk mendapatkan info atau review dari orang-orang terkait produk contact lens. Saya adalah pengguna contact lens yang sudah cukup lama. Pertama kali saya menggunakan kontak lens itu di tahun 2007, berarti udah sekitar 9 tahun yaa. Saya menggunakan contact lens secara rutin setiap hari, bukan hanya sesekali untuk kondangan lho.. Tetapi setiap hari. Oke, saya kayaknya harus cerita dulu ya awal mula saya akrab sama kacamata dan lensa kontak.

Saya pertama kali menggunakan kacamata itu di tahun 2004, saat masih duduk di bangku SMP kelas 2. Awalnya saya gak pernah merasa butuh kacamata, karena sejak SD hingga SMP saya selalu duduk di bangku depan. Maklumlah postur badan saya kan mini ya hehehe. Nah saat itu, wali kelas yang baru menerapkan peraturan rolling. Jadi setiap hari kita harus duduk bergantian, sehingga ada masanya saya mendapat giliran duduk di bangku belakang. Pada saat saya duduk di bangku belakang lah saya merasa tidak bisa membaca tulisan di papan tulis. Akhirnya saya memeriksakan mata saya ke dokter, dan ternyata minus saya sudah cukup besar yaitu -2,25 untuk mata kiri dan kanan. Menurut dokter, ini adalah minus yang cukup tinggi bagi orang yang pertama kali pakai kacamata dan dengan pertimbangan saya tidak memiliki keturunan dari orang tua yang bermata minus. Fyi, mama saya umur 51 saat ini, dan beliau hanya menggunakan kaca mata plus saat membaca. Papa saya berumur 55 dan hingga saat ini tidak menggunakan kacamata baik kacamata plus maupun minus. Adik saya berumur 22 tahun dan saat ini berkacata dengan minus -3. Jadi, saya dan adik saya mengalami mata minus karena pola hidup kami, seperti terlalu sering main games, membaca sambil tidur, dan lain-lain. (Sedih!)

Saat memasuki SMA, saya mulai kenal dengan contact lens. Contact lens sendiri terdiri dari 2 jenis, yaitu Hard Lens dan Soft Lens. Soft lens itu banyak dijual di optik, sedangkan hard lens harus memesan ke rumah sakit. Perbedaan diantara keduanya antara lain di bentuknya. Soft lens cenderung memiliki diameter lebih besar dibanding hard lens. Seperti namanya, jika dipegang, soft lens itu kenyal sedangkan hard lens seperti kaca yang kaku. Perbedaan lainnya akan saya elaborasi nanti ya.

Nah sekarang saatnya saya review beberapa produk soft lens yang pernah saya gunakan. Kebetulan selama ini saya pengguna soft lens, tapi sebentar lagi saya akan menggunakan hard lens (masih nunggu jadi). Jadi di post ini, saya akan mereview beberapa merk soft lens dulu ya.

1. Omega SoftLens

Ini merupakan soft lens pertama yang aku pakai. Harganya cukup murah, dulu sih sekitar 150ribu berisi 1 pasang softlens dengan ukuran minus yang bisa beda. Packangingnya adalah jar kaca sangat mini dengan jangka waktu pemakaiannya satu tahun. Saat dipakai pertama kali, teksturnya sangat lembut dan cukup ramah untuk mata. Diameternya juga lebar, jadi bola mata bisa bergerak bebas. Sayangnya, karena hanya ada satu pasang untuk setahun, jadi saat pemakaian bulan keempat, saya merasa tingkat kelembabannya semakin berkurang. Walaupun saya udah berusaha mencuci soft lens dengan sangat bersih dan teliti, tetap saja tingkat kelembabannya jadi sangat berkurang. Mata saya jadinya lebih sering iritasi. Biasanya saya cuma sanggup memakai sampai bulan ke delapan, lalu akhirnya beli lagi yang baru. Saya menggunakan omega ini cukup lama hampir tiga tahunan dengan pertimbangan harganya yang murah dan cukup mudah didapatkan di optik-optik.

2. Acuvue

Acuvue merupakan salah satu merk softlens yang terkenal. Saya memilih warna bening karena saya menggunakan setiap hari dengan ingin terlihat sangat natural. Harganya 1 boks sekitar 350ribu. Satu boks berisi 3 pasang, setiap pasangnya bisa dipakai untuk setiap bulan. Karena pada akhirnya saya beda minus, yaitu -2,25 dan -3,00 akhirnya saya selalu beli 2 boks untuk enam bulan pemakaian. Tentunya harganya cukup jauh ya dibanding Omega, tetapi Acuvue ini jauh lebih moist dan lebih aman. Karena 1 pasang hanya dipakai untuk 1 bulan. Packagingnya juga simpel, yaitu ditaru di wadah plastik kecil. Silahkan googling deh ya, karena saya gak sempat foto hehe. Saya memakai Acuvue juga lama, sekitar 3 tahunan sampai akhirnya silinder saya sudah sangat menganggu dan harus saya masukan dalam softlens juga karena penglihatan saya belum maksimal.

3. Cooperflex Toric

Cooperflex toric adalah softlens yang dapat menggabungkan minus dan silinder. Packagingnya hampir sama dengan Acuvue. Setiap boks berisi 3 pasang untuk satu ukuran, dengan jangka waktu pemakaian 1 bulan untuk 1 pasang. Karena minus dan silinder saya beda ukuran untuk kedua mata, jadi saya harus beli sekaligus 2 boks. Harga setiap boksnya sekitar 600ribu. Jadi saya harus mengeluarkan dana sekitar 1,2juta setiap enam bulan. (Elus-elus dada..) Sebenarnya Acuvue juga punya edisi toric juga, tetapi hanya untuk harian. Jadi biayanya akan jauh lebih besar.
Satu-satunya kelemahan cooperflex toric ini adalah pemesanannya yang cukup lama, bisa dua bulan. Jadi biasanya kalau stok saya sudah mau habis, saya akan buru-buru pesan dulu. Terakhir saya ingin beli Cooperflex dapat kabar bahwa ternyata produk ini sudah discontinued. Alhasil saya bingung harus nyari softlens silinder yang nyaman di mata dan di kantong. Kejadian ini akhirnya mengenalkan saya dengan hard lens!.

4. Fresh Look

Ini adalah soft lens yang saya beli kalau lagi buru-buru dan gak ada pilihan. Biasanya karena saya harus presentasi atau mau kondangan, tapi saya masih menunggu soft lens pesanan yang belum kunjung datang. Fresh look yang saya pakai biasanya warna coklat gelap karena mirip dengan warna bola mata saya jadi terkesan tetap natural. Harganya juga murah sekitar 80ribu satu boks isi sepasang yang dapat digunakan untuk satu bulan. Kelemahannya adalah tingkat kelembaban yang sangat rendah, jadi kalau make ini, mata cepat lelah dan terasa kering. Tapi softlens ini oke banget untuk pemakaian yang tidak terlalu lama atau dalam waktu kepepet karena mudah didapatkan di berbagai optik.

5. RGD M Tinu (Hard lens untuk mata minus dan silinder)

Sebenarnya saya lupa merknya apa. Hard lens ini bisa dipesan di berbagai rumah sakit spesialis mata seperti Jakarta Eye Center. Masing-masing rumah sakit memiliki brand tersendiri. Karena saya pesan di JEC, jadi saya menggunakan merk mereka. RGD sendiri kalau saya googling adalah Rigid Gas Permeable. Jadi salah satu keunggulan dari hard lens dibandingkan dengan soft lens adalah tetap membuka celah bagi oksigen yang masuk ke mata. Soft lens yang kita gunakan biasanya akan menghalangi oksigen yang masuk, sehingga kadang kita merasa mata cepat ngantuk, perih atau kering. Penggunaan yang cukup lama pada softlens akan membahayakan mata karena mata akan kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kebutaan. Ngeri kan? Setidaknya ini yang dijelaskan oleh Dokter Spesialis Lensa Kontak di JEC yang saya datangi. Dokter pun menyarankan saya untuk menggunakan hard lens dibandingkan soft lens. Kelemahan dari hard lens adalah harganya!! hahaha. Untuk satu mata, harga hard lens adalah sekitar 2 juta yang dapat digunakan hingga 3 tahun pemakaian. Jadi harga sepasang berkisar hingga 4 jutaan. Untuk pemakaian pertama, terasa agak mengganjal, namun pemakaian selanjutnya terasa lebih nyaman. Pemesanan hard lens bisa 6-8 minggu, karena akan dibuat berdasarkan ukuran kornea mata kita. Saya akan jelaskan di post saya selanjutnya deh tentang kunjungan saya ke JEC ya. Saya akhirnya setuju untuk menggunakan hard lens karena sepertinya ini satu-satunya jalan keluar yang dapat memfasilitasi mata minus dan silinder saya. Saat ini ukuran mata saya adalah -3,5 dengan silinder 1,75. Selain itu, saya juga merasa butuh untuk menjaga kesehatan mata saya dalam jangka panjang. Walaupun terlihat mahal di awal, sebenarnya sama saja kalau sama menggunakan cooperflex toric tadi.

Semoga informasi ini membantu teman-teman semua yang lagi hunting contact lens atau lagi dilemma mencari contact lens yang cocok. Sebenanrnya memang paling ideal adalah melakukan operasi lasik atau menggunakan kacamata. Namun, saya belum berani untuk lasik dan tidak terlalu nyaman dengan kacamata, jadi untuk saat ini, kayaknya contact lens masih menjadi pilihan yang paling baik. hehehe.

Any comments are welcome. Ciao!

Tasya


After A Very Long Hiatus

Hal yang paling susah setelah lama gak nulis adalah menuliskan kalimat pertama. Seperti sekarang, saya aja kaget ternyata terakhir nulis ternyata November 2014, almost two years! No wonder sih, dari dulu saya punya kekurangan dengan namanya komitmen dan konsistensi. Termasuk menulis blog, kalau hobinya lagi datang, bisa konsisten nulis banyaaaaak banget sampe berbulan-bulan, tapi abis itu bosan atau biasanya menemukan hobi baru, jadi ninggalin nulis lagi. Seinget saya, masa-masa paling aktif nulis blog itu jaman kuliah S1, hmmm, beberapa tahun yang lalu (biar gak ketauan tuanya! hehe). Waktu itu hobi nulis karena juga lagi sering baca buku dan novel jadi inspirasi nulis jadi banyak. Abis itu ngantor dan ngurus segala macam hal akhirnya ninggalin nulis lagi. Padahal saya salah satu orang yang percaya bahwa menulis itu penting. Menulis itu adalah awal mula dari sebuah proyek atau karya. Saya termasuk orang yang punya banyak ide di kepala saya, tapi karena jarang ditulis, ide itu akhirnya menguap gitu aja. Gak pernah jadi karya. Sama kayak tesis kali ya, idenya di kepala banyak, tapi kalau gak ditulis tetep lama lulusnya hahaha.

Akhirnya setelah sekian lama, saya mulai membangun komitmen untuk kembali menulis lagi. Kalau jaman dulu masih sering bikin prosa dan puisi, kayaknya sekarang saya akan lebih menulis hal-hal yang non-fiksi deh. Bukan karena udah gak suka dengan prosa, tapi lebih karena saya merasa jadi gak bisa nulis prosa lagi huhuhu. Kalau nulis prosa kayaknya gak bisa mengalir, terkesan dipaksakan. Saya juga kehilangan banyak kosakata, mungkin juga karena akhir-akhir ini saya jarang baca tulisan-tulisan fiksi. Well, akhirnya saya memutuskan untuk menulis yang non-fiksi aja, terutama review. Lagi-lagi belajar dari pengalaman, saya selalu melihat review sebelum membeli sesuatu. So, I think it's my turn to give back! Mungkin nantinya ada orang-orang yang akan terbantu dengan tulisan saya.

Okay, segitu dulu. Glad to be back!




Sunday, 9 November 2014

Kembali

Mengenalmu bukan perkara mudah
Seakan yang kau tawarkan hanya lara

Ntah apa yang kau diskusikan dengan Tuhan
Melangkah darimu aku enggan

Sadar bahwa cinta datang membawa harapan
Memaksa kita untuk bijak
Memaknai bahagia, menyikapi duka

Adakah kiranya satu masa
agar cinta kembali ke peraduannya?



Kembali.
Jakarta, November 2014


Photo source: Pinterest

Sunday, 2 November 2014

Le Chemin de LPDP

Hai..
Setelah blog ini lama mati suri, saya akan kembali menulis tentang info-info yang mungkin akan berguna bagi teman-teman di luar sana. Saya akan bahas mengenai LPDP.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) adalah sebuah lembaga profesional yang berada di bawah Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama, yang memberikan beasiswa magister dan doktor di berbagai universitas dalam dan luar negeri. Semua orang berhak mendaftar calon penerima beasiswa, baik yang sudah memiliki surat penerimaan atau Letter of Acceptance (LoA) atau yang baru niat lanjut sekolah :D

Seleksinya relatif sederhana dibandingkan tahapan seleksi beasiswa lain seperti Erasmus Mundus, misalnya. Padahal besaran beasiswanya sangat besar dan tidak kalah dengan beasiswa lainnya.
LPDP memiliki beragam skema untuk beasiswa, diantaranya Beasiswa Pendidikan Indonesia untuk magister dan doktor, Beasiswa Afirmasi, Beasiswa Tesis dan Disertasi, Beasiswa Spesialis Kedokteran dan Beasiswa Presiden Indonesia. Saya adalah penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia untuk program magister dalam negeri, jadi yang akan saya bahas selanjutnya adalah mengenai program ini. Untuk lebih lanjutnya, silahkan mengunjungi web lpdp di http://www.lpdp.depkeu.go.id/.

Beasiswa Pendidikan Indonesia adalah beasiswa reguler bagi para calon mahasiswa magister dan doktor di universitas dalam dan luar negeri. LPDP akan memberikan dana yang mencakup biaya sekolah, biaya hidup selama di kota dan negara tempat kuliah, biaya buku, biaya penelitian tesis dan disertasi, dan berbagai biaya lainnya. Untuk menjadi penerima beasiswa ini, pelamar beasiswa harus melewati empat tahap seleksi, yaitu:

1. Seleksi Administrasi
Pada tahap ini, pelamar beasiswa harus membuat akun di http://www.lpdp.depkeu.go.id/. Dalam akun tersebut, pelamar wajib mengunggah tiga essay yang temanya telah ditetapkan dan beberapa dokumen penting seperti sertifikat bahasa, ijazah, surat rekomendasi, dll. Setelah semua persyaratan administrasi lengkap, formulir bisa langsung disubmit. Hati-hati! ketika semua file telah disubmit, maka file tersebut sudah masuk dalam antrian file yang akan direview oleh LPDP, sehingga pastikan semua kelengkapan dan kesempurnaan dokumen sebelum melakukan submit.
Sebelum meng-klik tombol submit, pelamar beasiswa bisa kapan saja menutup atau membuka akun tersebut untuk melakukan pengeditan. Setelah submit, akun masih dibuka hanya untuk melihat pengumuman, bukan melakukan edit dokumen.

Pengumuman seleksi administrasi akan diumumkan biasanya pada periode wawancara yang biasanya diadakan empat kali dalam setahun. Bulan Maret, Mei, Juni dan September (pengalaman tahun 2014). Jadi, jika kamu submit di bulan januari, kemungkinan hasil seleksi administrasi keluar pada bulan maret atau akhir februari. Kalau melakukan submit dokumen pada bukan Maret, kemungkinan dipanggil wawancara yakni pada bulan Mei. Begitu seterusnya. Untuk pendaftaran adminstrasi, LPDP tidak memiliki deadline khusus, dibuka sepanjang tahun. Sehingga, semua kita yang atur. Jika butuh kepastian beasiswa sebelum September, pastikan semua proses seleksi selesai di bulan Juni. Seperti itu misalnya.

2. Seleksi Wawancara
Seleksi wawancara diumumkan biasanya kurang dari seminggu sebelum pelaksanaan wawancara. Seleksi wawancara diadakan di berbagai kota di Indonesia. Kalau di Jakarta, biasanya di kantor LPDP di Gedung Kementerian Keuangan dekat lapangan banteng. Pelamar akan diwawancara oleh tim panelis yang terdiri dari dua orang tenaga pengajar (dosen) yang memiliki latar belakang pendidikan dengan jurusan kuliah yang kamu tuju dan satu orang adalah psikolog.
Sesi wawancara berlangsung sekitar 20-40 menit per orang. Pertanyaan yang dilontarkan terkait dengan studi dan kesiapan kita untuk kembali sekolah.

Khusus bagian ini, saya memiliki pengalaman menarik. Saya adalah penerima beasiswa LPDP yang pernah gagal. Jadi, saya diterima sebagai penerima beasiswa setelah melakukan pendaftaran kedua kali. Pada wawancara pertama di bulan Maret, saya mengajukan pendaftaran untuk program dalam negeri dengan tujuan UGM dan jurusan manajemen. Waktu itu saya diwawancarai oleh dua orang dosen pria dan satu orang psikolog wanita. Wawancara berlangsung lima belas menit. Pertanyaan yang dilontarkan oleh tim panelis saat itu adalah alasan saya melanjutkan kuliah di dalam negeri. Saat itu saya langsung blak-blakan cerita bahwa saya tidak dapat izin orang tua untuk sekolah di luar negeri. Saat itu, tim panelis seakan mengerti dan malah memuji saya karena kemampuan bahasa asing saya yang menurut mereka sangat bagus. Wawancara dilakukan dengan Bahasa Inggris dan sedikit Bahasa Prancis, saat itu tim panelis mengemukakan mereka merasa senang dan puas dengan hasil wawancara saya. Saya pulang dengan tersenyum dan jumawa. Hasilnya keluar seminggu kemudian, dan tidak ada nama saya. Patah hati.

Masih penasaran, saya kembali mencoba dari awal. Saya kembali dipanggil wawancara pada bulan Juni. Tim panelis terdiri dari dua orang dosen pria dan wanita serta seorang psikolog wanita. Dari awal wawancara saya langsung diberikan penilaian yang "rendah". Intinya kalau mau sekolah di dalam negeri, kenapa harus daftar LPDP. Saya memiliki usaha dan pekerjaan serta orang tua yang masih memiliki potensi untuk membiayai saya. Tim panelis juga mengatakan LPDP tidak ingin memberikan beasiswa kepada orang yang sebetulnya memiliki kapasitas untuk sekolah di luar negeri. Tidak masuk logika mereka, kenapa saya harus memutuskan untuk sekolah di dalam negeri. Nyelekit. hahaha!
Saya juga ditanya mengenai prioritas hidup, antara pendidikan dan menikah. Saya juga dirayu untuk cari sekolah lain di luar negeri dan terakhir ditutup dengan "coba kamu cari sekolah lain dulu, nanti baru kami pikirkan apakah kamu cocok menerima beasiswa LPDP". Wawancara berlangsung selama lima puluh menit!! Saya udah antara geram dan pengen gampar tuh panelis. Sebagai penutup wawancara, saya akhirnya berani bilang bahwa "life is about choices. All you need in life, all you want, you can have it all, but not at once. That's my stance". Lalu pergi, dengan berderai air mata.. hahahaa. Gak deng, lalu pergi dengan perasaan jengkel, kenapa ibu-ibu dan bapak itu tajam-tajam banget mulutnya hahaha. Seminggu kemudian hasil keluar. Saya dinyatakan lulus!!

Lesson learned:
Saat wawancara pertama, saya bilang kalau tidak diizinkan ke luar negeri oleh orang tua. Sebetulnya menunjukan ketidakmampuan saya dalam meyakinkan seseorang. Jika orang terdekat aja gak yakin sama kita, gimana orang asing bisa percaya? Jadi, saya ubah strategi, untuk tidak mengeluarkan alasan itu pada wawancara kedua apapun kondisinya.

Wawancara kedua, saya berusaha meyakinkan apa yang membuat saya akan lebih berkembang walaupun hanya bersekolah di dalam negeri. Saya juga berusaha meyakinkan bahwa sekolah dalam negeri adalah pilihan saya dan bukan berarti saya tidak mampu untuk bersekolah di luar negeri, Untuk bagian ini, saya melampirkan semua sertifikat bahasa dengan score yang baik, TOEFL dan DELF. Tidak lupa menjadi diri sendiri dan kontrol emosi.

3. Leaderless Group Discusion
Pada tahap ini, semua pelamar beasiswa dikelompokkan ke dalam grup yang terdiri dari 10 orang. Tiap grup diberikan sebuah isu, waktu itu isu yang didapatkan kelompok saya mengenai kebijakan mineral dan tambang. Karena saya bukan tipe orang yang mendominasi ketika banyak orang yang lebih lantang, saya menawarkan diri menjadi notulen. Sebelum masuk ruangan, kelompok saya berusaha menerapkan aturan bawah setiap orang memiliki hak untuk berbicara sehingga akan lebih enak jika berbicara gantian dan urut. Hal ini efektif karena kelompok kami dapat melakukan diskusi yang baik dan mendapatkan kesimpulan sesuai dengan ide-ide yang dilontarkan tiap orang.

LGD dilakukan bersamaan dengan wawancara. Bisa sehari dengan wawancara atau keesokan harinya. Wawancara dan LGD memiliki alokasi waktu dua hari dan jadwal per orang bisa dilihat saat pelamar datang di hari pertama wawancara. Bagi teman-teman yang datang dari luar kota sebaiknya mengajukan cuti untuk dua hari. Pengumuman terakhir yang diberikan LPDP adalah gabungan dari pengumuman LGD dan wawancara.

4. PK (Pelatihan Kepemimpinan/Persiapan Keberangkatan)
PK merupakan tahap akhir wajib yang harus diikuti oleh calon penerima beasiswa LPDP. Sebelum PK, terdapat kegiatan pra-PK yakni saat-saat banyak tugas bejibun yang harus dikumpulkan dalam waktu yang singkat! Saya tidak akan banyak bercerita mengenai tahap ini biar akan menjadi kejutan bagi teman-teman. Bagi saya, tahap ini adalah tahap ketika saya merasa terinspirasi setiap hari, menemukan teman-teman yang hangat seperti keluarga dan momen yang pastinya akan membuat saya selalu rindu. Sepertinya, saya harus meluangkan waktu untuk membuat post tersendiri mengenai teman-teman luar biasa yang saya temui saat PK.

Setelah melewati empat tahap tersebut, kamu sah menjadi penerima beasiswa. Satu pesan yang harus terus digenggam. Kembalilah untuk Indonesia. Belajarlah dengan penuh ketekunan karena uang yang kalian gunakan adalah hasil keringat rakyat Indonesia.

Nah, begitu saja cerita saya mengenai proses seleksi LPDP. Jika ada yang ingin bertanya lebih lanjut, bisa meninggalkan komen di post ini. 

Terima kasih dan selamat mencoba!!

Tasya

Monday, 15 September 2014

Amplop Biru

Amplop Biru

Dari awal sudah kuperingatkan tentang amplop biru
Jangan coba untuk menyentuh, apalagi membuka lipatannya
Karena keadaannya akan berbeda
Dahimu mengernyit, tapi akhirnya setuju
Tidak peduli seberapa besar rasa penasaran mencekikmu
Peringatan itu bak perintah Tuhan
Yang kamu butuhkan bukan logika melainkan keyakinan
Entah khilaf atau tak mampu melawan godaan setan
Kutemukan amplop sudah terbuka
Kamu sudah tahu, rasanya tidak lagi sama
Seperti sekarang..

Saat aku hanya bisa menangisi nisanmu saja

Monday, 10 March 2014

(Masih) Sapardi

Salah satu pereda rindu dari Sapardi Djoko Darmono. Bagi para insan yang sedang menunggu..

BUAT NING

pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu


Sang Juara Metafora

Kumpulan karya besar yang menginspirasi dari seorang Sapadi Djoko Darmono. Saya catut disini agar ia tak mudah terlupa dan catatannya selalu tersimpan.

PADA SUATU HARI NANTI
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

GADIS KECIL

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung

DALAM BIS

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat

waktu henti ia tiada

Thursday, 6 March 2014

This just takes longer than you thought

There are plenty of reasons why we should be grateful for our life. This might sound cliché but if you think deeply, somewhat you'll find it true. 

Since I was a kid, I have been living a great life. I moved from city to other city, made a lot of friends and experienced different things. As I grow up, my expectation of life is getting higher. When I was 12, I told my parents that I wanted to go to the most well-known junior high school (at that time I was in Manado). They were very supporting and encouraging. I got enlisted!. Somehow, I was not satisfied enough that I challenged myself by taking acceleration class. I asked for my parents's approval as the cost was higher, and fortunately they were both agreed. I took the acceleration class which turned out very tiring. The fortunes came continuously as I mostly seated on top 3 ranks, got accepted in a prestigious high school and university.  
One day, I dreamed to see the ancient architectures in Europe, join the international conference, visit some places in other countries that I only see on television and work in multinational company. God must be very kind to me as He made every each of my dreams came true. 

However, the situation is slightly different for me now. It takes longer than it used to be, than I thought, to attempt my goals. Facing the failure is not easy, keeping your mind to be positive is not a simple action. There must be some times that we think it's the hardest, in particular when looking at our friends and people asked you many questions. You may be disappointed and worried, but I think that's human being. I felt those too. That is life, ladies and gentlemen. It has ups and downs. 
Even so, I keep believing that I just have to be more patient in waiting the time. The recipe are being grateful for your past, thinking positive for the future, giving the best effort for now. Because every little thing you've obtained and passed has its own meaning. 
You might fell a lot, but then you just have to bounce higher, like a child on a trampoline. Nothing should be  regretted. 

Today, I read a good quote. It said...
"Don't judge me. I am not ashamed of trying. Every journey has to start somewhere".

Monday, 13 January 2014

Indonesiaku, Indonesiamu

Selamat malam,

Izinkan saya untuk berbagi beberapa kekhawatiran saya terhadap bangsa Indonesia. Hal ini mungkin hanya tulisan blog yang mengandalkan pengamatan semata. Sehingga, di kemudian hari, jika ada dari teman-teman yang memiliki data komprehensif untuk melengkapi tulisan ini, tentunya saya akan sangat senang. Tulisan ini tidak bermaksud untuk melakukan penilaian (judging) atau mendiskreditkan serta mengecilkan peran seseorang maupun kelompok. Tulisan ini hanya mengungkapkan pemikiran saya sebagai salah satu bagian dari  masyarakat Indonesia.

Kekhawatiran saya yang pertama adalah kurangnya masyarakat Indonesia untuk melakukan dialog secara produktif.
Apa itu dialog produktif?
Dialog produktif adalah proses bertukar pikiran atau ide untuk menciptakan suatu rencana atau rekomendasi yang komprehensif dan terstruktur. Saat ini, kebanyakan dialog disertai dengan emosi yang meledak-ledak dan kemudian berujung pada debat kusir. Mungkin bisa kita lihat beberapa acara dialog di televisi yang mengedepankan drama dari sebuah diskusi. Pembawa acara tidak menjadi orang yang mengatur alur diskusi, melainkan menjadi orang yang memprovokasi emosi individu.
Sebetulnya ada beberapa cara, setidaknya menurut saya, bagaimana menciptakan dialog yang produktif. Pertama, bagaimana mengemukakan argumen yang disertai data. Kedua, menjaga kestabilan emosi, termasuk mampu menarik diri dalam diskusi jika diskusi sudah mengarah kepada debat kusir. Ketiga, tidak menjadi aktor dramatis. Maksudnya, menjadi orang yang memelintir kalimat seseorang, memutarbalikan omongan seseorang. Karena pada dasarnya, aktor-aktor ini yang membuat diskusi menjadi berlarut-larut dan tidak menghasilkan mufakat. Jika tidak memiliki data yang akurat, silahkan mengamati dan menilai mana argumen yang seharusnya didukung.

Kekhawatiran kedua adalah ketika seseorang menyepelekan pendidikan dan pergaulan sehingga tidak open-minded. Ada pepatah yang mengatakan derajat seseorang bisa berubah karena statusnya, hartanya dan pendidikannya. Pepatah tersebut menggambarkan betapa pentingnya pendidikan dan bagaimana peran pendidikan mampu membentuk seseorang. Pendidikan memungkinkan seseorang untuk lebih mengenal bagaimana sesuatu bekerja, bagaimana kebijakan diproses, bagaimana kegiatan ekonomi dijalankan. Pendidikan akan membantu seseorang untuk memahami sebuah prioritas. Hal mana yang patut diperbaiki dan dikembangkan.

Seseorang yang memiliki pendidikan yang tinggi harus disertai dengan pengalaman bersosialisasi dengan orang banyak. Kenapa? Agar bisa memahami perspektif orang banyak. Mengapa ada kesimpulan yang berbeda terhadap suatu hal, kacamata mana yang dipakai untuk melihat hal tersebut? Pergaulan juga memperkaya seseorang dengan informasi-informasi baru. Bahwa ternyata banyak hal yang tidak bisa dipelajari dalam institusi pendidikan formal.

Kekhawatiran ketiga adalah rendahnya toleransi antar individu.
Jangankan toleransi beragama, toleransi berpendapat saja masih langka.
Sebagai bangsa Indonesia, kita patut bersyukur memiliki etnis yang memiliki perangai yang berbeda jauh. Memungkinkan kita terbiasa menghargai perbedaan. Sayangnya, orang Indonesia terbiasa menyeletuk tapi mudah tersinggung. Mudah menertawakan gagasan orang dan tidak mampu mengakui keunggulan orang lain.
Hal ini sangat disayangkan mengingat berapa lama kita mempelajari pendidikan kewarganegaraan dan agama di sekolah, seberapa sering kita diingatkan oleh nilai-nilai pancasila, setiap upacara bendera dan seberapa sering nurani kita sebetulnya terus mengingatkan.

Kekhawatiran terakhir adalah apatisme masyarakat Indonesia.
Ini juga menjadi tantangan saya selama ini untuk menjadi pribadi yang tidak cuek dalam menyikapi permasalahan. Permasalahan sosial timbul juga karena ada pembiaran dari berbagai pihak, Misalnya seberapa sering kita terus-terusan memberi uang kepada pengemis? Bagaimana kalau uang tersebut diganti dengan roti. Lebih baik memberikan roti dibandingkan uang karena sebetulnya kita mampu memutus rantainya "aktivitas ekonomi" yang dihasilkan oleh kegiatan mengemis.
Mulai percaya dengan pengampu kebijakan, mulai bergabung dalam sebuah komunitas positif dan mulai berbagi pengalaman adalah ciri-ciri warga negara yang optimis.

Kekhawatiran tentunya tak ada artinya jika hanya dipikirkan tanpa aksi yang nyata. Aksi sudah dapat dilakukan saat ini juga, dimulai dari unit terkecil.
Biasakan menjadi orang yang mau berdialog aktif, mau sekolah bersungguh-sungguh, mau bertemu dengan banyak orang, mau menghargai identitas setiap orang dan mau bersikap optimis. Mulai penanaman hal-hal tersebut sejak dini, ciptakan individu-individu yang dapat menjadi agen perdamaian. Mulai berdiskusi dengan orang-orang positif, mulai menjadi pribadi yang rendah hati untuk terus berbagi dan mulai berani untuk mengakui kesalahan,

Bangsa Indonesia adalah bangsa kuat yang bersatu. Modernisasi serta globalisasi harus menjadi motivasi agar Indonesia menjadi bangsa yang kaya. Andai saja setiap individu warga negara Indonesia sadar akan pentingnya saling memahami, maka harapan untuk menjadi bangsa yang besar sesungguhnya ada. Pada akhirnya, harapan itu ada untuk diwujudkan.



Sunday, 5 January 2014

When everyone starts getting married

Within these couples of months, I heard some good news from my close friend that they are getting married. There are at least four bestfriends who has declared their wedding date. Let me tell you by one by one.


Ms.B
This girl is one of my bestfriend at college. She met A (her husband wanna be) at her house when her parents introduced him. At first, she really hated the idea of being involved in matchmaking. One day, her parents allowed A to stay at their house in order to know deeper about A. During his stays, he convinced B's parents that B is the one he's looking for. B stayed at the second floor of her house and A was on the first floor of the house. They literally lived at the same rooftop for many days, but they never met privately. When A was talking to B's parents, B could just hear from the second floor. At some point, B felt that God was playing with her heart because exactly on the day when A decided to leave, B thought she's in love with A. B asked her parents to make them meet before A left from the house. Their eyes met, and later B decided to accept A's proposal.

A year later, the baby boy named Abdullah come to Earth!


Ms.N
This person is my 7-years bestfriend. I've been knowing her stories since 3 years ago when she started falling in love with this man. I remember that 3 years ago she told me that she had a crush on someone. At that time, she had a relationship with someone else though. Hahaha. However, this man is extremely different with her. After 3 years of waiting, finally these two people is married!

Mr.A
So the story starts from a year ago when this man complained how Ms.N is getting married this fast while he's struggling living this earth as a single man! (haha!).
Well, I decided to take evinka (my other bff who has plenty of girlfriends) 's cellphone and tweeted about Mr.A. Hours later, there was incoming call from Evinka's friend who's asking about Mr. A. Short story, Evinka introduce them, they started to date. A year later after the meeting, they decided to get married.

My story?
HAHA. None from me so far, dude!

2013 - What happened

Tulisan ini adalah tulisan pertama saya sejak berbulan-bulan sudah vakum menulis. Hal yang patut disayangkan mengingat membaca dan menulis merupakan minat saya yang paling lama. Saya tidak ingin menyalahkan pekerjaan yang menumpuk atau waktu yang padat. Karena pada akhirnya, yang salah adalah pribadi yang tidak mampu mengelola waktunya dengan baik.

Tahun 2013 dibuka dengan semangat saya yang semakin membara saat melakoni pekerjaan di bidang konsultan kehumasan. Bulan Januari dan Februari, saya diberikan kesempatan untuk banyak mengembangkan kemampuan diri, terutama di bidang public speaking. Pada bulan tersebut, saya banyak dikirim ke berbagai daerah untuk menjadi narasumber di salah satu sesi acara sosialisasi yang diadakan klien. Melalui kegiatan itu, saya bisa berkunjung ke Cirebon, Banten, Tanjung Pandan, Pangkal Pinang, Lampung dan lain-lain. Di bulan April, saya bahkan mendapat tugas dinas internasional pertama saya, ke Singapura. Saya bisa mengunjungi berbagai tempat yang mungkin tidak akan saya kunjungi jika saya pergi kesana sendiri.

Pada pertengahan tahun, saya juga mengalami hal-hal menyenangkan terkait kisah cinta. Pertengahan tahun merupakan saat dimana saya bisa mengenal keluarga pasangan saya, begitu juga saya bisa membawa pasangan masuk ke keluarga.

Namun, mulai pertengahan tahun pula, saya mulai merasakan gamang dengan pekerjaan saya saat ini. Saya merasa tidak yakin untuk bertahan di kantor lama, di industri yang sama. Cukup ironis memang karena pada tengah tahun, saya justru mendapat apresiasi dari kantor berupa naik jabatan. Namun, saya bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang mengenai dunia kerja dan dunia sekolah yang akhirnya membuat saya berpikir untuk keluar dari zona saat itu. Saya mulai menyusun rencana bahwa harus ada dunia baru di tahun depan. Saya  mempersiapkan diri untuk meraih pekerjaan baru atau kembali melanjutkan sekolah. Saya kemudian bergerilya melakukan pendaftaran ke beberapa kementerian serta BUMN. Sebagai rencana cadangan, saya juga mendaftar untuk sekolah.

Memasuki bulan-bulan di akhir tahun, hasil dari aktivitas gerilya mulai terkuak. Saya menerima berbagai penolakan. Saya tidak lolos dalam tahap-tahap akhir seleksi dua lembaga negara. Saya tidak kunjung menerima panggilan dari BUMN yang saya daftar jauh-jauh hari. Kemudian, saya juga mendapat berita penolakan dari sekolah yang saya inginkan.

Boleh jadi, bulan-bulan akhir menjelang pergantian tahun adalah bulan-bulan yang cukup menantang. Saya perlu membagi waktu untuk kerja, les bahasa inggris dan belajar untuk mempersiapkan diri menjalani berbagai tes kementerian. Saya juga mengalami perdebatan yang sangat panjang dengan orang tua dan pasangan yang membuat saya paham bahwa dukungan dari orang terdekat adalah amunisi semangat yang signifikan. Ada beberapa impian yang saya inginkan, ternyata tidak cocok dengan persepsi mereka sehingga terdapat suatu masa saat amunisi semangat itu hilang dan yang tersisa hanyalah kemauan pribadi.
Bulan Desember adalah bulan pengikhlasan atas semua kontradiksi yang terjadi. Bulan yang memungkinkan saya untuk melakukan refleksi, berdamai dengan keinginan orang-orang terdekat dan membuka pikiran dan hati seluas-luasnya untuk sebuah toleransi.

Kesimpulannya, tidak ada yang perlu disesali di tahun 2013. Saya sungguh bersyukur atas semua hal yang saya alami di tahun 2013. Pengalaman adalah guru terbaik. Trial and error adalah sebuah proses  yang memaksa kita untuk belajar. Saat ini saya menanggalkan semua atribut. Bulan lalu saya masih tercatat sebagai karyawan swasta, yang tersisa adalah pribadi yang ingin berjuang.  Tahun 2014 bagi saya adalah kanvas putih tanpa coretan sehingga bulan Januari merupakan bulan yang penting karena bulan ini saya memegang kuas dan harus memutuskan warna apa yang ingin saya ambil untuk lukisan tahun depan.


Selamat tahun baru!

Sunday, 4 August 2013

Kodrat Wanita - Spiritual Journey

Baru dua hari saya memiliki kucing persia di rumah, tapi rasanya seperti ingin menyerah karena kerepotannya. Hari pertama Amoy dibawa ke rumah, dia langsung buang air dan tidak berhasil membersihkan sendiri. Alhasil, bau semerbak kemana-mana. Hari pertama amoy di rumah adalah hari sabtu, artinya hari saya harus ikut serta membantu pekerjaan rumah tangga. Lalu, keesokan harinya, saya juga  harus membawa Amoy vaksin ke dokter hewan. Sabtu-minggu badan saya dihajar dengan pekerjaan rumah tangga dan keruwetan mengurus kucing. Dalam hati saya bicara, saya mau kerja kantoran aja, ternyata menjadi "ibu" itu susah..

Saya jadi teringat pembicaraan saya dengan teman dekat beberapa waktu yang lalu. Waktu itu ia bertanya, "kamu tau kodrat wanita itu apa?. Tanpa pikir panjang, saya jawab "ya tahulah, melahirkan , menyusui, ngurus rumah". "Iya beberapa benar, selain itu apa?". Saya mulai penasaran "emang maksud kamu apa? ya paling gitu-gitu aja". "Nanti coba kamu tanyakan ke mama, kodrat wanita itu apa? Kalau udah tahu, kamu kasih tau aku".
Kemudian saya panik. 

Selesai pembicaran itu, sejujurnya saya merasa kesal sekaligus malu. Rasanya seperti sekedar diuji. Itu adalah pertanyaan naluriah yang seharusnya mampu dijawab tanpa berpikir keras. Namun, yang terjadi adalah saya terlalu bingung untuk menjawab pertanyaan tadi. Karena malu, saya belum ingin bertanya kepada mama. Saya coba cari di google. Hasilnya sama seperti yang saya pikirkan, melahirkan, menyusui, menjaga anak. Saya semakin bingung. Kemudian, saya mencoba mencari tahu dari mama, tanpa bertanya dengan lugas apa itu kodrat wanita. Dari diskusi tersebut, jawaban mama simpel. Coba mengacu pada agama. 

Saya kemudian membaca beberapa tulisan atau artikel di internet tentang posisi wanita dalam Islam. Beberapa hal banyak menyentuh saya dan betapa banyak yang saya belum ketahui tentang kodrat saya sendiri. Beberapa waktu lalu saya juga pernah mendengar beberapa ceramah berkaitan dengan posisi wanita. Sebagai puncaknya, saya kembali bertanya kepada teman saya yang kebetulan sudah menikah. Dari semua alternatif pencarian yang saya lakukan, kira-kira hasilnya seperti ini:

1. Wanita memiliki peran penting dalam memberikan keturunan yang baik
Wanita memiliki kemampuan lebih dibandingkan pria untuk mampu melahirkan, menyusui serta mendidik dengan kasih sayang. Peran penting wanita telah ada sejak wanita tersebut hamil karena ia mempunyai tanggung jawab untuk memberikan nutrisi terbaik bagi calon keturunannya. Begitu juga saat di fase menyusui, serta mendidik anaknya. Sudah wajar ketika seorang wanita harus meluangkan banyak waktunya untuk keluarga karena wanita dikodratkan memiliki arti penting bagi keturunannya.

2. Wanita harus mampu menjaga kehormatannya.
Wanita dikodratkan memiliki jelmaan yang indah. Bahkan, wanita menjadi salah satu dari tiga hal (harta dan takhta) yang mampu menyulut terjadinya perang. Sudah selayaknya, wanita mampu menjaga kehormatannya. Berperilaku baik, berbicara santun, berwajah ceria atau baiknya menutup auratnya. Sejauh ini, saya masih belajar untuk menjulurkan kerudung hingga mencapai dada. :D

3. Wanita harus mampu menjadi penyejuk hati pasangannya
Kelak, wanita akan memiliki pasangan yang insya Allah menjadi pemimpin baginya. Pemimpin juga manusia yang bisa merasa lelah. Kodrat wanita sebagai makhluk yang lembut akan mampu membawa kesejukan bagi pasangannya. Menjadi teman diskusi, menjadi sosok cantik yang bisa ia pandangi, menjadi kokinya, dll. 

Menurut saya, itu adalah tiga hal pokok yang menjadi kodrat wanita. Tiga hal tersebut memiliki turunan yang aplikasinya akan berbeda pada setiap orang. 

Monday, 8 July 2013

Jadilah Pendengar yang Aktif

Cerita ini hanyalah curahan semata, dari perspektif saya sebagai orang yang suka bercerita. Saya punya kecenderungan untuk membagi topik cerita sesuai segmen orang yang akan menjadi pendengar. Saya sudah mampu memilah, jika dengan orang ini, saya bisa curhat ini, dengan si B, saya bisa diskusi tentang isu B, tapi kalau dengan si C, mending diceritain ini aja deh. Akibatnya, saya jadi punya banyak teman yang saya jadikan tabungan cerita saya hehehe. Pemilahan ini terjadi begitu saja, sesuai dengan kapasitas lawan bicara saat mendengarkan cerita saya. Ya, saya sangat memperhatikan bagaimana orang tersebut mendengar cerita saya.

Semua orang pasti pernah mendengar pepatah tentang mengapa jumlah telinga manusia lebih banyak dibandingkan mulutnya. Bahwa sebetulnya manusia diharapkan lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Namun, saya percaya bahwa mendengar lebih sulit dibandingkan berbicara. Sebagai bukti, sudah ada orang-orang yang mengklaim ahli di bidang seni bicara, bahkan sering kita jumpai kelas-kelas seni berbicara di depan publik. Setidaknya, saya belum pernah melihat ada institusi yang mengajarkan manusia untuk menjadi pendengar yang baik. Atau saya tidak tahu, mohon dimaafkan dan dikoreksi hehehe.

Menurut saya, pendengar bukanlah lawan bicara yang pasif. Mendengar adalah kegiatan memaknai dan menanggapi. Saya selalu senang ketika orang mendengar cerita saya dengan mata berbinar atau rasa ingin tahu, seakan cerita saya adalah satu-satunya hal menarik yang perlu diperdulikan saat itu. Sebaliknya, saya akan merasa tidak ingin melanjutkan cerita apabila pendengar saya, tidak menatap saya atau asik dengan gadgetnya. Ada pula pendengar yang terlihat menatap mata dan mendengarkan, namun sebetulnya ia tidak sedang mendengarkan cerita kita. Buat saya, mendengarkan cerita seseorang adalah suatu bentuk penghargaan atau pengakuan eksistensi. Ketika saya didengarkan, saya akan merasa sebodoh apapun cerita saya, ada segelintir orang yang mau meluangkan waktunya untuk menunjukkan kepeduliannya.

Selama hampir setahun bekerja, saya banyak menjumpai orang dengan berbagai karakter. Banyak orang yang membuat saya terkesan dan setelah diperhatikan, ternyata mereka semua memiliki kemampuan mendengarkan orang dengan baik. Saya terus berusaha untuk menjadi salah satu dari mereka. Berusaha bahwa setiap ada orang berbicara, tatap matanya dengan lembut untuk membuat orang tersebut nyaman untuk bercerita. Tanggapi dengan beberapa pertanyaan dan jangan pernah melakukan judgement. Terkadang judgement tidak kita sadari, namun saat ini kita perlu melatih untuk mengelola judgement tersebut. Jangan memotong pembicaraan dan dengarkan hingga ceritanya usai. Jika ceritanya berulang, bisa kita tangapi dengan candaan. Jika terpaksa harus menyela pembicaraan, lakukan dengan sopan. Biasanya dikarenaka kita harus menelpon atau membalas sms yang penting. Dengan melakukan beberapa hal tersebut, saya yakin orang akan merasa lebih dihormati dan dihargaj.

Kadang pernah berpikir, jika saja seluruh pemimpin negeri itu adalah pendengar yang baik dan aktif, mungkin Indonesia bisa lebih teratur di kemudian hari.

Selamat malam.

Friday, 7 June 2013

Cantik!

Semua wanita rela berkorban demi jadi cantik! Itu lebih dari sekedar naluri, itu hukum mutlak. Semutlak matahari yang selalu terbenam di barat atau semutlak hukumnya sah buat pengantin yang telah mengucapkan ijab kabul. Hihihi.

Boyish girls don't care with the beauty, talk to my hand. That's a bull**** sorry to say. Looks stunning is everyone's desire. Because why? You need to beauty to attract opposite sex, you need to be more beautiful to choose what you want. Beauties rule the world. I can say yes. However, beauty is not only about physical appearance though that would be the biggest part if you define beauty. You who are fat or short may be beautiful as well. While some people describe beauties are the one who have long straight hair, light skin, skinny and tall. Some people just don't. So, I had been wondering why some women is trying too hard to become that kind of beauty. That was my naive thought. Now I realize that, for the sake of beauty you need to sacrifice. The problem is how you define beauty. Nothing's wrong even when you feel beauty is being tall and pointed nose. Then, you go to have plastic surgery. I won't judge. Cause being stunning is everyone's desire, being fabulous is everyone's hope and perhaps being beautiful is the only thing you need to achieve your complete goal.

You don't have to judge someone else as they did some effort to become beautiful. I, myself, admitted that I did jogging this morning for the sake of beauty. Only coward person who judge people's effort, why? Cause they dont dare enough to admit their effort. Effort can come with many forms, so dont you dare to judge.

However, lady, world will never be fair. World never be enough to define one thing. As you are grown up, as you meet many people, you will know that that wont be an exact definition of a thing, including beauty. So, it's yours, it's your right to choose how beauty you are, what beauty would fit you, how important beauty to you. It's definitely your call.

For me, beauty is about being healthy and (having a flat stomach). Cause when I got flu, I think I look miserable or kucel hehe. Beauty is about being smart and well-dressed. Beauty is about obeying the rule. The most beautiful person dont do queuing will look too ugly for me. And beauty is about accepting people the way they are. Accepting is hard, so lady with a wide heart and lots of smiles for different people is the most beautiful

Sunday, 12 May 2013

What made me happy #6

Buffalo gathering!!!

There is always a rainbow after the rain

Sometimes you are trapped in a condition where you should adjust yourself to others. In real life, you will meet this condition in some aspects, at your work, in your relationship or in your circle friends. Adjusting is not easy, but it is possible. Furthermore, the harder part of the process itself is when you have to accompany and handle person who is adjusting. I understand how hard the process is, how it affects the mood and emotion. I know that sometimes that person just don't realize how s/he acts. I know this is about time and everything will end, hopefully the ending goes smoothly as planned.

I think, person who is adjusting, is hard to hear suggestions. They do complain a lot. I don't blame him/her, cause as I mentioned before, the process is harmful. All I can do as the one who handle that person is trying to be more positive. Be patient and be a good listener.
But actually, I really want to whisper "Dearie, take a deep breath cause there's always a rainbow after the rain"